Tepat di tanggal kemarin 20 Maret, CakSis dilahirkan dari rahim seorang ibu yang mulia. 42 tahun telah berlalu dan beliau sudah meninggalkan dunia ini terlebih dahulu sebelum semua keinginannya tercapai untuk bisa melihat dan merasakan kesuksesan anak-anaknya. Terima kasih ibu sudah memberi pelajaran hidup yang sempurna untuk menghadapi kehidupan ini dengan lebih baik dan bijaksana dalam bersikap. Semua cerita-cerita pengalamanmu, cerita tentang masa lalumu, cerita tentang masa kecilku…semua menjadi inspirasi terindah dalam kalbuku. Terima kasih ibu…dan juga perjuangan seorang bapak untuk berusaha memenuhi kebutuhan kami.

Dan juga di tanggal kemarin sedikit kejutan kecil dari putri pertama CakSis. Sebuah catatan kecil dengan kata-kata yang mencerminkan arti dari sebuah harapan dan sebuah cita-cita dari seorang anak. Kata-kata yang disusun dengan indah, dengan bahasa yang Masya Allah demikian tertatanya. Walaupun tidak disampaikan secara langsung, namun semua itu seperti dirinya berhadapan dan berkata lembut dalam tulisan tersebut. Dan tulisan itu ditulis sebelum tanggal kemarin sewaktu dia masih ada di rumah.

Tentang seorang anak, terkadang kita sebagai orang tua memang diuji dengan anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Terkadang pula anak tersebut juga membawa banyak kelebihan dan terkadang malah sebaliknya. Namun apapun itu yang dibawa seorang anak ketika terlahir di dunia ini, itulah darah daging kita, itulah juga amanah titipan untuk kita bisa mendidiknya tanpa kenal lelah. Karena kita juga dulu dan selamanya juga menjadi seorang anak dari orang tua kita bukan?

Semua anak terlahir dengan membawa gen/DNA masing-masing dari pasangan orang tua. Tergantung mana yang lebih dominan, maka itulah yang menjadi cerminan dari kita, bisa ayah atau ibu. Seringkali kita jumpai seorang anak dengan wajah yang hampir sama persis dengan salah satu orang tuanya ketika remaja/dewasa secara fisik, namun dalam cerita CakSis tentang putri pertama ini bukanlah kesamaan secara fisik, tapi secara non fisik yang antara lain berupa sifat, watak, tabiat sekaligus perilaku. Ya secara sifat, bisa dibayangkan kalau CakSis yang pendiam ini bersama dengannya yang juga relatif pendiam, jadilah lebih banyak diam nya dalam kesehariannya..haha. Dan bicara melalui tulisan/catatan lebih mempunyai 1001 makna seperti yang CakSis ungkapkan di paragraf kedua diatas, lebih memiliki kebebasan berekspresi dan bisa terbaca situasi hati pada saat itu.

Terkadang dalam merenung kesendirian pun semuanya menjadi semakin jelas bahwa semua anak membawa keseimbangan dari orang tuanya. Dari seorang anak lah kita juga bisa berkaca tentang diri kita sendiri. Bagaimana sifat kita, watak kita, perilaku kita..semua cerminan tersebut ada pada anak kita sendiri. Walaupun pada kasus tertentu pada seorang anak bertolak belakang dengan keadaan orang tuanya, namun gen/DNA dari semua leluhurnya masih terbawa dan itulah cerminannya. Pada putri pertama CakSis ini kemiripan sifat bisa dikatakan diatas 90% lah, tapi kalo kemiripan rupa lebih mendekati ke bintang drama asal Korea Selatan Park Shin Hye….hehehe. Alhamdulillah…

Ungkapan Like Father, Like Son/Daughter bukanlah ungkapan yang tidak bermakna karena ungkapan tersebut menggambarkan kemiripan anak dengan orang tuanya. Jadikanlah anak kita sebagai cermin bagi diri kita sendiri, jikalau ada tampak perilaku atau sifat negatif dan kita tidak suka, terlebih dahulu instropeksi pada diri kita sendiri dan insya Allah itu akan ada juga pada diri ayah atau ibu. Sehingga kita bisa sama-sama berusaha untuk memperbaiki semuanya.

Spesial untuk putri pertamaku, Ayah bangga denganmu..nak. Selalu bangga dan selalu ada dalam doa Ayah dan Bunda bersama dengan almarhum kakak dan adikmu. Semua dalam proses untuk menjadi permata yang akan bersinar dalam kondisi apapun. Namun sebelumnya tentu saja harus melalui berbagai macam polesan dari tukangnya. Kuncinya adalah sabar dan jadikan hanya Allah sebagai tempat terbaik untuk mengadukan keluh kesahmu.