Sering kita mendengar sebuah ungkapan “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”. Ungkapan yang sarat makna sebagai penyemangat dalam melakukan sebuah aktifitas yang bersifat dunia atau akhirat (kehidupan setelah mati).

Sebagai manusia biasa tentunya kita memiliki keinginan sederhana untuk bisa hidup selamanya bersama dengan orang-orang yang kita kasihi. Terlebih lagi dalam mengejar sebuah cita-cita, sebuah keinginan yang tentunya juga harapan untuk bisa mencapai hidup bahagia bersama keluarga untuk selamanya. Dengan cara bekerja, belajar, dan berusaha semaksimal mungkin demi sebuah asa yang cepat atau lambat ingin segera kita wujudkan. Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selamanya.

Namun sebagai makhluk hidup, sudah menjadi kepastian bahwa yang hidup akan menjadi mati. Sebuah proses alam yang tidak bisa kita hindari. Kematian datang dengan caranya sendiri, tanpa diundang, tanpa bisa ditawar dan tentu saja tanpa kepastian kapan akan datang menjemput. Sama halnya dengan kehidupan di dunia yang setiap kita akan berusaha mengejar arti kebahagiaan, kehidupan setelah kematian pun adalah hal juga wajib kita perhitungkan. Tak pantaslah rasanya kalau kita hanya mengejar kebahagiaan di dunia, sementara kebahagiaan setelah kematian kita abaikan. Untuk itu “Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.

Hidup dan mati adalah sebuah hal yang berpasangan. Ibarat malam dan siang, kaya dan miskin, pintar dan bodoh, dan lain sebagainya. Saling melengkapi dan keduanya saling berdampingan untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Hidup adalah untuk mati, dan mati adalah untuk hidup.