Matahari silih berganti menyinari bumi dengan rupa siang dan malam tanpa henti. Bulan pun demikian terus menerus tanpa henti menyinari bumi dengan rupa bentuk sabit ke purnama sampai hilang sementara dari pandangan bumi untuk muncul kembali dalam rupa bentuk sabitnya.

Sama halnya dengan denyut nadi bumi ini yang terus-menerus tiada henti memompa umat manusia dari segala sisi untuk terus berkarya, mengkaryakan bumi itu sendiri. Sebuah negara, sebuah kota, sebuah desa, bahkan dalam tubuh manusia itu sendiri juga terus-menerus berbisik, berbicara, bahkan berteriak guna menyakinkan penghuninya bahwa mereka ada.

Hidup memang harus terus bergerak dalam ramai ataupun sunyi. Harus terus bersuara dalam kebisuan hati didera oleh himpitan-himpitan yang seringkali membungkam naluri. Harus terus mendengar bisikan sampai teriakan yang seringkali membuat kepala harus mendongak ke atas.

Sampai saatnya tiba, hari telah malam. Gelap sampai bayangan pun tak tampak. Naluri pun menciut, hati mengkeret karena tekanan dari sunyinya malam. Semua bisu, semua gelap, semua hilang ditelan lubang hitam yang semakin membesar. Kaki dan tanganpun tak mampu digerakkan, hanya dada yang berpura-pura terus membusung ke depan.

Hanya dengan memeluk heningnya malam, mendekap semilir angin dan menghirup rasa sunyi itulah yang harus dilakukan. Ditemani tetesan air mata dan dada yang semakin sesak karena tak mampu lagi menampung beban yang terus bertambah. Tidak ada tempat lagi untuk bisa sekedar menjulurkan kaki ini, terasa lemas, terasa tubuh ini semakin mengecil.

Hening adalah keramaian dalam sanubari. Hening adalah teman bagi yang merasa lelah untuk terus bergerak. Hening juga membawa rasa laksana tanah kering diterpa hujan gerimis.

Heningkan tubuhmu, heningkan hatimu, heningkan sanubarimu, heningkan dan heningkan rasamu sampai ditemukannya setitik cahaya dalam mata hatimu yang akan semakin terang menyinarimu sebagai sarana melepas semua beban hidup.