Kehidupan di Pondok Pesantren bukanlah suatu hal mudah. Terutama bagi para pendatang/murid baru. Hal yang utama dilakukan adalah caranya untuk bisa beradaptasi dengan suasana lingkungan yang tentunya akan sangat jauh berbeda dengan suasana lingkungan di rumah sendiri. Keputusan untuk menempuh pendidikan lebih lanjut di sebuah Pondok Pesantren adalah sebuah keputusan yang berani dengan segala konsekuensinya yang akan berdampak pada kedua orang tuanya dan anak itu sendiri.

Alhamdulilah sudah lebih dari setahun ini, putri pertama CakSis menempuh pendidikan setingkat Menengah Atas atau MAN di sebuah Pondok Pesantren di daerah Kencong, Jember. Bisa dibilang keputusan tersebut adalah murni dari anaknya sendiri, karena sejak lulus dari sekolah MI sebenarnya sudah meminta untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Namun sebagai orang tua, tentunya CakSis dan istri juga mempunyai pertimbangan lain untuk lebih mempersiapkan diri tingkat kedewasaan pada si anak dan lebih menata persiapan mental pada sebuah perpisahan yang akan terjadi.


Pada bulan-bulan pertama tentu saja adalah yang paling berat untuk dilalui, baik dari sisi sang anak atau dari sisi orang tua. Akan lebih banyak cerita duka dibanding suka karena semua masih dalam tahap proses penyesuaian diri. Kekuatan mental/psikis sangat diperlukan karena awal perpisahan dan awal penyesuaian dengan lingkungan baru yang apabila tidak kuat menjalaninya, maka tentu saja akan membuat si anak tidak kerasan yang ujung-ujungnya akan membuat si anak berbuat nekad untuk keluar dari lingkungan Pondok.

Yang paling sulit adalah menemukan seorang teman/sahabat yang sesuai dengan kriteria si anak. Teman untuk berbagi cerita, suka ataupun duka. Terutama buat anak pendiam. Karena sisi lain dari kehidupan Pondok adalah sebuah “ploncoan” bagi murid baru, yang pada akhirnya akan turut membentuk karakter anak di saat menghadapi situasi di kehidupan berikutnya.

Bagi orang tua, ada 2 sisi type orang tua. Yang biasa untuk selalu bersama sang anak dalam setiap kegiatannya, tentu akan merasakan sebuah kehilangan waktu dalam momen kebersamaan tersebut. Namun bagi orang tua yang terbiasa “jauh” dikarenakan pekerjaan, kesibukan, atau sikap cuek pada anak, tentu saja merasakan hal yang biasa di saat anak tidak berkumpul bersama. Kerinduan untuk bersama akan terasa semakin berat karena komunikasi pun bisa jadi dibatasi, baik lewat suara atau bertemu langsung.

Namun dibalik semua beratnya beban kangen dan beban mental akan berbuah manis disaat kita nanti bisa melihat anak-anak kita menjadi orang yang berilmu, terlebih lagi ilmu agama. Dan juga yang lebih diharapkan adalah nanti disaat orang tua berada di alam barzah, tentunya do’a dari sang anak akan lebih berarti dari segala apapun. Karena anak adalah investasi akhirat bagi kedua orang tuanya.

Momen menguatkan mental untuk supaya terus bertahan…..

Robbi habli minassholihin

Selamat Hari Jadi yang ke -17 untuk putriku yang sekarang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Assuniyah Kencong, Jember dan…

Sekaligus Selamat Hari Jadi yang ke -9 untuk adiknya, semoga mau juga mengikuti jejak kakaknya….Aamiin.