Hari itu setelah jam makan siang, sekitar pukul 14.00 waktu Mekkah, dia mulai berjalan untuk menuju ke Baitullah. Berjalan dengan pelan dan hati-hati sekali karena kaki nya tidak lagi dalam bentuk sempurna seperti dulu. Pada engsel kakinya tidak dalam posisi yang pas setelah insiden terjatuh sekitar 3-4 bulan sebelumnya. Dengan membawa tongkat sambil melangkah di tengah terik panasnya jalanan kota Mekkah di sekitar Masjidil Haram, dimulailah sebuah cerita tentang keajaiban, kegigihan, dan sebuah ketidakmungkinan.

Jarak antara Masjidil Haram dengan tempatnya dia menginap adalah sekitar 1 Kilometer. Bukan sebuah jarak yang jauh untuk seseorang seumuran dia, dengan catatan kalau dia dalam kondisi sehat sempurna bentuk tubuhnya. Orang-orang yang hendak menuju sholat ke Masjidil Haram mungkin sampai dalam waktu 10-15 menit saja dengan berjalan santai. Tapi dengan kondisinya sekarang, jarak tersebut sebenarnya sudah merupakan sebuah jarak yang jaauuuuhhh baginya. Jarak tersebut harus ditempuhnya dengan rentang waktu 30-60 menit karena akan diselingi waktu istirahat setelah kakinya mulai terasa berdenyut. Mungkin sekitar 2-3 kali dia harus istirahat untuk mengistirahatkan kakinya.

Di sekeliling jalan yang dilaluinya ada banyak toko-toko souvenir khas untuk oleh-oleh umroh atau haji. Untuk menuju ke Baitullah, dia harus masuk melalui Marwah Gate, sebuah lokasi tempat Bukit Marwah berada. Selain melewati daerah pertokoan, akan tampak pula bangunan bersejarah yang menurut para ahli merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebuah bangunan bercat kuning yang kontras dengan sekitarnya, orang Indonesia menyebutnya dengan Rumah Maulid. Kemudian melewati lagi sebuah bangunan luas yang dulunya terdapat bangunan rumah Siti Khadijah bersama Rasulullah SAW hidup berumah tangga. Di tempat itu juga Muhammad ibn Abdullah diselimuti dan ditenangkan Khadijah. Di tempat itu pula lahir putri terkasih Rasulullah, Fatimah Azzahra.

Berjalan terus melewati anak tangga elevator untuk turun menuju lantai dasar sejajar dengan Ka’bah. Masih terdapat banyak orang lalu lalang terkadang sambil lari-lari kecil karena memang setelahnya adalah jalur orang-orang melakukan Sa’i yang merupakan salah satu rukun umrah atau haji. Dan akhirnya dari pintu masuk menuju jalur Sa’i itulah tempat dia untuk berikutnya bisa dekat dengan Ka’bah, melihat dan merasakan sendiri berada di pelataran Ka’bah.

Setelah sholat dan untuk menunggu waktu sholat berikutnya, dia sesekali membaca Al Qur’an dan terkadang diselingi beberapa doa dan harapan sambil berdzikir. Dalam hati dan pikirnya dia mulai berdoa dengan setengah bergumam kepada dirinya sendiri. “Ya Allah, hamba bersyukur telah Engkau berangkatkan hambamu yang lemah ini untuk menuju ke rumah MU. Hamba bersyukur dengan keadaan hamba seperti ini masih Engkau takdirkan hamba untuk bisa berada di tempat yang mulia ini. Ya Allah, seringkali hamba mendengar bahwa berdoa di depan Ka’bah pastilah Engkau kabulkan. Bahwa seringkali pula doa itu langsung terjawab dengan seketika tanpa harus menunggu nanti atau besok. Ya Allah, hamba memiliki seorang putra yang sudah meninggal sewaktu masih kecil. Seringkali hamba berharap agar dia masih hidup sampai sekarang untuk bisa menemani kegiatan hamba dan keluarga di dunia ini. Seringkali pula hamba merindukan dan membayangkan dia sekarang yang sudah dewasa. Namun Engkau mentakdirkan lain untuk putra hamba tersebut dan memang itulah mungkin jalan terbaik untuk hamba sekeluarga dan juga baginya. Ya Allah, keinginan hamba mungkin terdengar tidak mungkin bagi setiap hamba Mu yang lain, namun hanya Engkau lah Yang Maha Berkehendak, hanya Engkau lah Yang Maha Mengabulkan setiap kali hamba Mu berdoa terlebih di depan tempat yang mulia ini, bangunan yang Engkau sebut dengan rumah Mu yang senantiasa ramai dikunjungi saudara sesama muslim. Ya Allah, hamba mohon untuk bisa minimal ketemu dan bisa melihat wajah putra hamba walaupun sekilas dalam bayangan di antara orang-orang yang melakukan thawaf di hadapan hamba.” Begitulah kurang lebihnya doa yang dia panjatkan hari itu dengan di iringi air mata yang mulai menetes.

Tiba-tiba entah dari mana, seorang pemuda duduk mendekati dia, dalam bahasa negara Turki dia berbicara sambil memberi isyarat tangan. Dan terjadilah dialog yang sudah dalam bentuk terjemah bahasa Inggris kurang lebihnya.

“Hello, Assalamu’alaikum..”, seorang pemuda datang menyapanya terlebih dahulu
“Wa’alaikum salam..”, jawab dia
“My name is Ibrahim, are you from Indonesia ?”
“Yes, how about you ?”
“I am from Turki. Do you have a phone, may I borrow you phone?”

Dengan sedikit perasaan curiga dan sesekali menatap wajah pemuda tersebut, akhirnya dia memberikan handphone nya kepada tersebut. Setelah handphone berpindah tangan, terlihat pemuda tersebut sedikit mengotak-atik sambil sesekali dia bertanya dan minta dibukakan aplikasi Youtube.

“This is my Youtube channel”, ujar pemuda tersebut
“Oh yes, I see. It’s like parkour. Do you like parkour ?”, dia bertanya kepada pemuda tersebut
“Yes, this is me. I like parkour and this is my video activities”, jawab pemuda tersebut

Selanjutnya mungkin terdengar tidak masuk akal baginya, namun apa yang di bayangkan melalui wajah pemuda tersebut dengan melihat ciri bentuk wajahnya, ciri di kala dia tersenyum termasuk pada warna kulit dan alis pada matanya dan mata pemuda tersebut, dia sesekali teringat pada foto putra kecilnya yang sudah meninggal. Terlihat hampir mirip, hampir mirip dengan kemiripan diatas 95%. Sehingga pada dialog berikutnya sesekali dia memberi nasihat seperti dia berkata kepada putranya sendiri. Sampai akhirnya terdengar seorang wanita memanggilnya, namun pemuda itu masih ingin bersama dia. Wallahu A’lam Bishawab