Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.
shopee

Ramadhan, Tamu Besar yang Mengetuk Pintu Hati

Refleksi mendalam tentang Ramadhan sebagai tamu agung yang membawa rahmat dan ampunan
 

Ada tamu yang tidak datang membawa koper.
Tidak mengetuk pintu rumah.
Tidak mengirim pesan lebih dulu.

Namun kehadirannya selalu membuat hati bergetar.

Namanya Ramadhan.

Setiap tahun, ia datang dengan cara yang sama: perlahan, sunyi, tapi penuh wibawa. Ia tidak pernah memaksa, namun selalu dinanti. Ia tidak berteriak, namun suaranya menggema sampai ke relung jiwa. Ramadhan adalah tamu besar yang mengetuk pintu hati setiap muslim.

Dan seperti tamu agung pada umumnya, Ramadhan tidak datang tanpa maksud.

Ia datang membawa cahaya ampunan, hamparan rahmat, dan janji pembebasan dari api neraka.

Pertanyaannya bukan lagi “kapan Ramadhan datang?”, melainkan, sudah siapkah kita menyambutnya?

Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah undangan langsung dari Allah.

Undangan untuk kembali.
Undangan untuk membersihkan diri.
Undangan untuk memperbaiki hubungan yang retak dengan-Nya.

Saat hilal terlihat, seakan langit berbisik: “Wahai hamba-Ku, pintu-pintu surga telah dibuka.”

Masjid mulai ramai. Al-Qur’an kembali dibaca. Doa-doa kembali panjang. Hati-hati yang sebelumnya keras mulai melunak.

Ramadhan datang bukan untuk mengubah jadwal makan semata, tapi untuk mengubah arah hidup.

Ia mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar menahan perut, melainkan mendidik jiwa. Haus bukan sekadar menunggu adzan, tapi latihan kesabaran. Menahan amarah bukan sekadar sopan santun, tapi bentuk ibadah.

Ramadhan datang membawa kurikulum langit.

Jika tamu besar akan datang ke rumah kita, apa yang biasanya kita lakukan?

Kita membersihkan lantai.
Kita merapikan ruang tamu.
Kita menyiapkan hidangan terbaik.

Namun Ramadhan tidak datang ke rumah berdinding batu. Ia datang ke rumah bernama hati.

Maka yang perlu dibersihkan bukan sekadar sajadah, tapi dendam.
Yang perlu dirapikan bukan hanya lemari, tapi niat.
Yang perlu disiapkan bukan hanya menu sahur, tapi keikhlasan.

Ramadhan akan singgah di hati yang mau berubah.

Ia tidak betah di jiwa yang terus menunda taubat. Ia tidak nyaman di hati yang masih penuh iri dan sombong. Ia ingin tinggal di ruang yang lapang, meski sederhana.

Ramadhan juga datang membawa pelajaran tentang kefanaan.

Betapa banyak dari kita yang menyambut Ramadhan tahun lalu, tapi kini telah berada di liang lahat. Betapa banyak yang dulu sahur bersama keluarga, kini hanya tinggal kenangan.

Ramadhan mengajarkan bahwa hidup tidak panjang.

Maka setiap tarawih bisa jadi yang terakhir.
Setiap sahur mungkin yang penutup.
Setiap iftar bisa jadi momen perpisahan.

Kesadaran itu membuat air mata mudah jatuh.

Karena Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tapi bulan perpisahan yang selalu datang terlalu cepat.

Salah satu hadiah terbesar Ramadhan adalah ampunan.

Betapa murahnya surga di bulan ini.

Satu ayat Al-Qur’an diganjar berlipat.
Satu sedekah menjadi ladang pahala.
Satu istighfar bisa menghapus dosa bertahun-tahun.

Allah membuka pintu-pintu langit selebar-lebarnya.

Namun betapa ruginya orang yang melewati Ramadhan tanpa diampuni.

Rasulullah ï·º bahkan berdoa keburukan bagi mereka yang mendapati Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan Allah.

Ini bukan ancaman, tapi peringatan penuh cinta.

Ramadhan datang bukan untuk dilalui, tapi untuk dimenangkan.

Saat perut menahan lapar, kita mulai mengerti rasa orang yang kekurangan. Saat haus mencekik tenggorokan, kita belajar tentang penderitaan mereka yang sulit air bersih.

Ramadhan menumbuhkan empati.

Ia mengajak berbagi.
Ia mengajarkan memberi.
Ia menumbuhkan kepedulian.

Bukan hanya lewat zakat dan sedekah, tapi lewat senyum, doa, dan perhatian kecil.

Ramadhan mengingatkan bahwa keberkahan tidak lahir dari menumpuk, tapi dari mengalir.

Setiap tamu besar tentu berharap meninggalkan kesan.

Begitu pula Ramadhan.

Ia ingin pergi dengan membawa perubahan dalam diri kita. Ia berharap meninggalkan bekas di akhlak kita. Ia ingin setelah ia berlalu, shalat kita tetap terjaga, Al-Qur’an tetap dibaca, dan dosa-dosa tetap dijauhi.

Ramadhan bukan tujuan akhir.

Ia adalah jembatan.

Jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita telah gagal memuliakan tamu agung itu.

Akan tiba hari ketika takbir Idul Fitri berkumandang.

Orang-orang tersenyum. Anak-anak bersorak. Hidangan terhidang.

Namun bagi hati yang sadar, ada rasa haru yang tak terucap.

Ramadhan pergi.

Tamu besar itu pamit, meninggalkan kita dengan catatan amal selama sebulan. Ada yang penuh dengan shalat malam dan tilawah. Ada pula yang hanya berisi lapar dan kantuk.

Semoga kita termasuk yang dirindukan Ramadhan, bukan yang dilupakan.

Ramadhan adalah tamu yang datang membawa langit ke bumi.

Ia mengetuk pintu hati, memanggil jiwa yang lelah, dan menawarkan jalan pulang kepada Allah.

Sambutlah ia dengan taubat.
Hormatilah ia dengan ibadah.
Antarlah ia dengan air mata doa.

Karena kita tidak pernah tahu…apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk menyambutnya kembali.

Religi
Gabung dalam percakapan
Posting Komentar